Rabu, 30 Januari 2013






SEJARAH HADROH
SEJARAH HADROH - poll
Hadhroh pertama kali di perkenalkan oleh seorang tokoh tasawuf yang sampai sekarang karya – karyanya masih di perbincangkan oleh pakar – pakar serta sarjana – sarjana di dunia timur maupun barat, beliau adalah Jalaluddin Rumi Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma). Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207, Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset. Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain.
Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun. Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut. Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia. Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang mempunyai murid sebanyak 4.000 orang. Sebagaimana layaknya seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan menjadi tumpuan ummat untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin/Syamsi Tabriz. Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing—yakni Syamsi Tabriz—ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari. Sultan walad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya. ”Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya. Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi. Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan walad untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya. Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi. Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz. Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya). Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama ..The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase. 
WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya



1.1. Hadhroh di Nusantara.
Mengenai kapan datangnya Hadhroh di bumi nusantara ini memang belum banyak keterangan kapan tepatnya adanya Hadhroh, namun adanya Hadhroh atau yang lebih populer di kenal dengan musik terbangan ( rebana bahasa jawa ) tersebut tak lepas dari sejarah perkembangan dakwah islam wali songo di nusantara ini dikatakan bahwa menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudah konprensi besar para wali, diserambi Masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana menurut irama seni arab. Penggunaan rebana tersebut diadopsi oleh wali songo dengan kebiasaan didaerah asal wali songo tersebut ( Hadrolmaut ) yang di jadikan media berdakwah, menurut keterangan dari ulama besar palembang yaitu Al’Alimul ’Alamah Al”arifbillah Al Habib Umar Bin Thoha Bin Shahab ” adalah Al Imam Ahmad Al Muhajir ( kakek dari wali songo kecuali sunan kalijogo ) waktu beliau hijrah ke Yaman ( Hadrolmaut ) maka beliau mendapati seorang darwisy ( pengikut thoriqot sufi ) yang sedang asyik memainkan Hadhroh (rebana) serta mengucapkan syair pujian kepada Alloh dan Rosul-Nya, sehingga maka bersahabatlah sang Imam dengan Darwisy tersebut ”. Maka sejak itu apabila imam Muhajir mengadakan majlis maka disertakan darwisy tersebut, hingga sekarang keturunan dari Imam Muhajir tetap menggunakan Hadhroh disaat mengadakan suatu majlis.
Pada saat sekarang ini Hadhroh berkembang dengan pesatnya sebagai musik pengiring maulid Nabi Saw serta acara – acara keagamaan lainnya seperti haul, isro mi’roj dan sebagainya, sehingga banyak bermunculan grup-grup Hadhroh, Pada akhirnya Hadhroh merupakan salah satu minhaj atau cara berdakwah yang dapat di terima oleh banyak lapisan masyarakat.


2. Hadhroh ?

banyak orang yang belum kenal betul apa itu Hadhroh dan sangat ironis sekali banyak pula para pemain Hadhroh pun yang belum tahu apa Hadhroh itu, ada pepatah mengatakan ” tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta ”, maka dari karena itu simak penjelasan kami berikut ini ;


2.1. makna Hadhroh.
Dari segi bahasa, hadroh terambil dari kata hadhoro – yuhdhiru – hadhron – hadhrotan yang berarti kehadiran, namun didalam istilah kebanyakan orang hadhroh ini di artikan sebagai irama yang di hasilkan oleh bunyi rebana.
Dari segi istilah/definisi, hadhroh menurut tasawuf adalah suatu metode yang bermanfaat untuk membuka jalan masuk ke “hati”, karena orang yang melakukan hadhrah dengan benar terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah yang senantiasa hadir dan senantiasa meliputi, pada asalnya hadhroh ini merupakan kegiatan para sufi yang biasanya melibatkan seruan atas sifat – sifat Alloh yang maha hidup ( Al-Hayyu ), dapat dilakukan sambil berdiri, berirama dan bergoyang dalam kelompok- kelompok. Sebagian kelompok berdiri melingkar, sebagian berdiri dalam barisan, dan sebagian duduk berbaris atau melingkar, pria di satu kelompok, dan wanita di kelompok lain yang terpisah. Kebanyakan tarekat sufi mempraktikkan dzikrullah dengan berirama atau menyanyi, dengan sekali-sekali menggunakan instrumen musik, terutama genderang. Musik telah memasuki praktik tarekat sufi secara sangat terbatas, dan sering untuk jangka waktu sementara di bawah tuntunan seorang syekh sufi. Di anak-benua India, kaum sufi mendapatkan bahwa orang Hindu sangat menyukai musik, sehingga mereka pun menggunakan musik untuk membawa mereka ke jalan kesadaran-diri, dzikrullah dan kebebasan yang menggembirakan. Maka walaupun peralatan musik digunakan untuk maksud dan tujuan itu, namun pada umumnya mereka dianggap sebagai penghalang yang tak perlu. Kebanyakan bait- bait yang dinyanyikan adalah mengenai jalan rohani dan tak ada hubungannya dengan nyanyian biasa. Sering merupakan gambaran tentang bagaimana membebaskan diri dari belenggunya sendiri dan bagaimana agar terbangun. Jadi, nyanyian dan tarian sufi merupakan bagian dari praktik menumpahkan kecemasan duniawi dan menimbulkan kepekaan dalam diri dengan cara sama , (mendengar). Dalam konteks sufi, sama' ini artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan musik atau nyanyian yang dimaksudkan untuk peningkatan rohani dan penyucian-diri. Tidak ada arti lain yang dikandung semua praktik ini selain menimbulkan suatu keadaan netral dalam diri sendiri dan pembukaan hati. Dan, tidak dilakukan demi hiburan sebagaimana musik biasa yang ritmis dan menggairahkan secara fisik. Tarian itu adalah untuk Allah, bukan untuk orang lain. Sering kita dapati bahwa bilamana seorang syekh sufi sejati tidak hadir, musik dan nyanyian tak dapat dikendalikan lagi dan melenceng dari tujuan yang diniatkan. Musik adalah alat, dan bila dipegang oleh orang yang tahu bagaimana menggunakannya, akan bermanfaat untuk tujuan yang diniatkan. Apabila sebaliknya maka ia bisa lepas kendali dan menyebabkan kerusakan.
Kesimpulannya adalah hadhroh itu merupakan kegiatan/ praktik membuka jalan masuknya hidayah Alloh kedalam hati dengan jalan mandengarkan syair – syair religius atau keagamaan dengan diiringi alunan irama – irama yang di hasilkan oleh instrumen alat-alat musik terutama rebana.


3. Hadhroh & Syariat Islam.

Hadhroh di dalam pandangan syariat agama terjadi kontroversi artinya masih menjadi perdebatan dikalangan umat, dan tidak sedikit pula banyak orang yang mendiskriditkan atau memojokkan Hadhroh ini merupakan suatu hal yang di haramkan oleh agama sehingga banyak juga dari mereka yang mengatakan orang yang melakukannya dianggap telah melakukan kemusyrikan dan sebagainya, oleh karena itu kami sertakan dalil – dalil serta pendapat-pendapat para ulama salaf ( terdahulu ) dan ulama Mutaakhirin ( sekarang ) agar kita mendapatkan penjelasan mengenai di benarkannya Hadhroh didalam syariat islam dan juga untuk menepis pandangan – pandangan yang negatif tentang hadhroh yang membuat perpecahan diantara umat islam. 


3.1 Dalil – dalil yang memperbolehkan Rebana ( Hadhroh ).


hadits dari A'isyah R.A. :
Suatu ketika Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam masuk ke bilik 'Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: ... dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini. (HR. Bukhari).

Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara(lagu) pada saat pernikahan. (Hadits shahih riwayat Ahmad).

Adapun pernikahan, maka disyariatkan di dalamnya untuk membunyikan alat musik rebana disertai nyanyian yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan suatu pernikahan, yang didalamnya tidak ada seruan maupun pujian untuk sesuatu yang diharamkan, yang dikumandangkan pada malam hari khusus bagi kaum wanita guna mengumumkan pernikahan mereka agar dapat dibedakan dengan perbuatan zina, sebagaimana yang dibenarkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahualaihi wa sallam Sedangkan genderang dilarang membunyikannya dalam sebuah pernikahan, cukup hanya dengan memukul rebana saja. Juga dalam mengumumkan pernikahan maupun melantunkan lagu yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan pernikahan.

[Bin Baz, Mjalah Ad-Dakwah, edisi 902, Syawal 1403H][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]_________Foote Note[1] Al-Bukhari tentang minuman dalam bab ma ja誕 fi man yastahillu al-khamr wa yusmmihi bi ghairai ismih

Ada satu jenis alat musik yang diterangkan kebolehannya secara jelas, yaitu rebana (Arab : duff atau ghirbal), sesuai sabda Nabi SAW :
“Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” (HR. Ibnu Majah) (al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, II/52).
Adapun selain rebana, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. pendapat Nashiruddin al-Albani yang mengatakan hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if (lemah).
Memang benar, ada beberapa ahli hadits yang memandang hadits-hadits itu shahih. Seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits, an-Nawawi dalam Al-Irsyad, Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq, as-Sakhawy dalam Fathul Mughits, ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar, juga Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim dan masih banyak lagi. Tetapi al-Albani lebih setuju pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhallamunqathi’ (terputus sanadnya) (Nashiruddin al-Albani, Dha’if al-Adab al-Mufrad, hal. 14-16).
bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah
Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla (VI/59) berkata :
“Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.” (Al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57).
Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum asalnya, sesuai kaidah fiqih : Al-ashlu fi al-asy-yaa` al-ibahah maa lam yarid dalilu at-tahrim [Hukum asal benda adalah boleh selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya].

Maka jika ada dalil syar'i tertentu yang mengharamkan, pada saat itu pasti suatu alat musik hukumnya haram dimainkan. Misalnya :
(1). Jika suatu alat musik diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram, atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban, hukumnya haram. Sebab kaidah fiqih menetapkan : al-wasilah ila al-haram haram [Segala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga]. Misalnya saja alat musik yang dimainkan mengakibatkan ikhtilath (campur baur pria wanita) atau dilalaikannya shalat wajib.
(2). Jika suatu alat musik digunakan untuk mengiringi lagu yang syairnya bertentangan dengan Islam, hukumnya haram. Sebab syair yang dinyanyikan wajib syair Islami atau yang dibolehkan Islam. Jika suatu alat musik digunakan mengiringi lagu yang syairnya tidak dibolehkan Islam, misalnya menyerukan nasionalisme, hukumnya haram.
(3) Jika suatu alat musik digunakan secara khusus oleh orang kafir dalam upacara keagamaan mereka, hukumnya haram. Sebab haram hukumnya muslim menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil-kuffar), sesuai
hadits Nabi SAW,"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk ke dalam golongan mereka." (HR. Abu Dawud)


3.2. Alat-alat yang dipukul atau diketuk

1. Ad-Duff (Rebana Kecil)
Duf adalah sejenis alat musik yang disepakati oleh para ulama keharusan penggunaannya. Hukum ini berdasarkan kepada hadith-hadith Rasulullah SAW yang secara terang menyebut keharusan penggunaan alat ini. Di antaranya:


a. Hadith riwayat Muhammad bin Hatib daripada Rasulullah SAW1. Ad-Duff (Rebana Kecil)Duf adalah sejenis alat musik yang disepakati oleh para ulama keharusan penggunaannya. Hukum ini berdasarkan kepada hadith-hadith Rasulullah SAW yang secara terang menyebut keharusan penggunaan alat ini. Di antaranya:a. Hadith riwayat Muhammad bin Hatib daripada Rasulullah SAW:
“...Pemisah antara halal dan haram ialah pukulan duf.”

b. Hadith riwayat Khalid bin Zakuan daripada Ar-Rabie’ binti Mu’awwiz bin ‘Afra’ :
“Masuk Nabi SAW – ketika mula-mula berkesedudukan denganku (selepas perkahwinan)- lalu duduk di atas hamparan seperti kedudukan kamu (Khalid bin Zakuan) daripada aku. Di ketika itu beberapa hamba perempuanku sedang memukul duf dan meratapi kematian bapa-bapaku dalam Peperangan Badar.
JAWARIS SURENTO ON RABU, 16 JANUARI 2013
Asal-usul Hadrah
Permainan hadrah pada masa dahulu dikenali dengan nama panggilan Noge. Walaubagaimana pun, dalam tahun 1960an, permainan ini dikenali sebagai Hadrah. Buat masa ini, mula terkenal dengan nama panggilan Anika Bangsawan Hadrah. Mengikut keterangannya, perkataan Hadrah diberi sempena dengan nama Puteri Zahrah, seorang lelaki tetapi disebabkan segak dan tampan, dia telah dipakaikan dengan pakaian perempuan.
Tarian Hadrah amat popular pada tahun 1950an dan 1960an, terutamanya bagi penduduk di Utara Semenanjung Malaysia seperti Perlis, Kedah, Perak dan Pulau Pinang. Di Selatan Semenanjung Malaysia, Hadrah ini lebih dikenali sebagai 'Kompang', sementara di Pantai Timur pula lebih dikenali sebagai 'Rebana Kencang'.
Permainan atau persembahan Hadrah ini boleh digolongkan dalam muzik paluan, iaitu muzik yang hanya menggunakan alat-alat gendang dan gong untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Terdapat perbezaan persembahan Hadrah di negeri-negeri di Utara Semenanjung Malaysia. Perbezaan ini bukan sahaja dapat dilihat dari segi sari kata lagu, corak tarian serta aspek persembahan tetapi yang lebih nyata adalah dalam aspek penekanan nyanyian dan tarian di dalam setiap persembahan. Menurut Profesor Taib Osman, Hadrah adalah sama dengan persembahan teater yang lain seperti Makyong, Menora dan sebagainya dari aspek persembahan.

"Razuk" sedang menari bersama-sama penari.
Jika suatu ketika dahulu, tarian Hadrah ini dikenali sebagai Noge, maka terdapat beberapa perbezaan di antara keduanya. Dalam tarian Noge, terdapat hanya lagu dan nyanyian di samping menyelitkan lakonan untuk memeriahkan lagi persembahan. Alat muzik yang digunakan adalah alat muzik lama, seperti gendang. Hadrah pula mengutarakan alat muzik yang lebih moden iaitu biola, gitar, drum dan tamborin.
Permainan Hadrah dimain sebagai hiburan di majlis-majlis perkahwinan iaitu di waktu persandingan dilangsungkan. Selain daripada itu, ianya juga dilakukan sebagai melepaskan nazar.
Terdapat banyak cerita mengenai kemunculan permainan Hadrah ini. Menurut sejarahnya, Hadrah ini, berasal dari cerita orang sesat dalam hutan rimba. Ceritanya bermula dengan seorang tua bersama dua belas orang kawannya, pergi memburu. Malang menimpa, seorang daripada mereka telah sesat semasa berjalan di tengah hutan. Pemburu yang malang itupun berjalan seorang diri. Setelah penat mencari jalan keluar, beliau terjumpa dengan sepohon kayu besar. Beliau duduk di atas akar banir pokok kayu tersebut lalu menyanyi sambil memukul banir tersebut dengan hasrat bunyian tersebut dapat didengar oleh kawan-kawannya yang lain. Dengan perbuatan ini, dia dapat bertemu dengan kawan-kawannya kembali.
Sekembalinya di kampung, mereka membuat tiap-tiap seorang sebuah gendang, lalu bermain sambil menyanyi lagu yang dinyanyikan oleh kawannya yang sesat tadi. Inilah sebabnya bahasa yang dinyanyikan dikatakan bahasa orang sesat, yang berbunyi seperti berikut……"Sa………no……ree!…..Hae!……mere". Ini dikatakan bahasa orang sesat yang dikenali bahasa Noge.
Mengikut satu lagi cerita dongeng, terdapat seorang dewa-dewa di kayangan yang mempunyai 7 orang anak. Setelah mendapati mereka membuat salah, mereka telah disumpah oleh ayahnya dan dilempar ke dunia. Mereka dibekalkan dengan sebilah gergaji, sebilah kapak dan tiga keping belulang kulit kambing. Apabila mereka turun ke dunia, mereka sesat di tengah hutan rimba yang kononnya di sebuah Negeri Arab. Semasa berjalan di tengah hutan rimba, mereka terjumpa sebatang kayu berlubang. Dengan kayu ini, mereka telah membuat gendang dan menyanyi lagu "Aya he kamper ".
Hadrah juga berasal dari perkataan Arab iaitu dikir yang disertai oleh Kompang atau Rebana Kecil. Menurut Profesor Taib Osman, Hadrah adalah sejenis puisi rakyat yang mempunyai unsur-unsur keagamaan terutama puisi Arab yang menyanjungi Nabi Muhammad (s.a.w) dan sebagai contohnya, puisi atau lagu yang dinyanyikan ketika orang Madinah menyambut ketibaan Nabi Muhammad (s.a.w) dari Mekah yang dikenali sebagai lagu 'Talla-an Badrun' alaina'. Pada masa dahulu, di negeri Arab gendang akan dipalu bersama dengan nyanyian untuk menaikkan semangat para tentera yang sedang berperang....


RUMUS DASAR HADROH

Rumus A
1. DT DDD / {TDT DDD / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )}
2. TD TTTT TTTD DDDD DDDD TTT. D. TTTT TTT. D. TTTD
3. T.T.T. TTTT TTT. D. TTTD TTT. D. TTTD TTT. D. TTTD (be xx mengikuti lagu)
4. ~D. TTT. DD TTT. D (Penutup)

Rumus B
1. D.T DDDT / {TDTT DDDT / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )}
2. TDTT TTTT TDDD DDDD DDTT TTDT TTTT TTDT TD
3. T. TTTT TTTT TTDT TDTT TTDT TDTT TTDT TD (ber xx mengikuti lagu)
4. ~DT TDDT TD (Penutup)


Ket : Rumus di atas adalah rumus dasar (belum diterapkan pada lagu), apabila akan diterapkan pada lagu maka rumus tersebut diketuk dengan mengikuti panjang pendeknya lagu, dengan cara dikurangi atau ditambah. Ketentuannya, untuk rumus A (yang ditambah atau dikurangi) adalah pada ketukan TTT. D. TTT D dan untuk rumus B pada ketukan TTDT TDTT.


CONTOH PENERAPAN PADA LAGU

Lagu Assalamu’alaik : Baris nomor 3 diketuk 2x, baris nomor 4 dikurangi 1
Lagu Yaa Nabi Salam ’Alaik : Baris nomor 4 ditambah 1.
Lagu Yaa Imamarrusli : Baris nomor 3 diketuk 2x, baris nomor 4 dikurangi 1.
Lagu Thola’al Badru : Baris nomor 3 dikurangi 1.


CONTOH VARIASI KETUKAN AWALAN LAGU

D / D DDD / T DDD...
D / TD TDD / T DDD...
D / D. D. D TT D / T DDD...
D / DD D / T DDD...
D / D D DD / T DDDT...
D / TD T. DD / T DDDT...
D / D. D. D TT TD / T DDDT...
D / DD D / T DDDT...


CONTOH KETUKAN BASS

D / D DD D
D / DD DD D
D / D DD D
D / D DD DD D D
D / D D D

Ket : Untuk ketukan awalan Bas, mengikuti ketukan awalan pada rumus A.



RUMUS DASAR HADLROH ( pelan )

ASSALAMU’ALAIK

A. 1. T. D. TT TD ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. T. D. TT TDD TT TT T TT TD D DD DD D DD DD
T. TT D TT TT T TT TT D TT TD
B. 1. T. DT. TD ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. T. DT. T. DDT T. TT T T. DD D D DD D DDT
TT D TT T TT TT TT D TT TD


MAULAYA

A. 1. D/ DD. T. TT. TD / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. DD. T. TT. TDD TT TT T TT TD D DD DD D DD DD
T. TT D TT TT T TT TT D TT TD
3. T. TT D TT TT T TT TT D TT TD T TT TT D TT TD
T TT TT D TT TDD TT TT D TT TD
B. 1. D/ DD. T. TD / ( diketuk ber xx mengikuti lagu )
2. DD. T. T. DD T T. TT T T. DD D D DD D DDT
TT D TT T TT TT TT D TT TD
3. T.T.T. DT T TT TT TT D TT TD TT TT D TT TD
TT TT D TT T DD TT TT D TT TD


EKSTRA BONUS VARIASI

1. A. D/ TD TDD / ( Huwannur, Ala Ya Rosulalloh )
B. D/ TD T. DD /
2. A. DD/ TT TT T. DD / ( Ya Madihan )
B. DD/ TT T TT TDD /
3. A. D/ TD T DDD / TT TT TD ( Ya Robbana’tarofna )
B. D/ TD T. DD DD / TT T TT TD
4. A. D/ T DT DT DD / ( Saaltulloh Barina )
B. D/ TD TD T. D DD /
5. A. DT / T DDX ( Ya Badrotim )
B. DT / T. DD DX
6. A. DTT. DTTD TT XX ( Lagu bebas )
B. D. TT. D. TT. TD. TT. XX.

 http://akuwongkatro.blogspot.com/2011/02/rumus-dasar-hadroh.html





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar